AKSDA KOTA MOJOKERTO JADI TUAN RUMAH DISEMINASI RETROFTTING SANIMAS

gambar utama
MOJOKERTO – GEMA MEDIA : Bertempat di Hotel Raden Raden Wijaya Kota Mojokerto selama dua hari  (23-24 oktober 2019), Asosiasi KSM Sanitasi Indonesia (Aksansi) Kota Mojokerto menjadi tuan rumah dalam acara Diseminasi Retrofitting  Sanimas.  Diseminasi kali ini diikuti oleh Aksansi Daerah di Jawa Timur antara lain, Jogjakarta, Surakarta, Malang, Batu, Kediri, Temanggung, Sukoarjo, Magelang dan Kota Mojokerto, serta stake holder terkait Kota Mojokerto.

Dipilihnya Kota Mojokerto sebagai tuan rumah, menurut Prasetyastuti Purpowardoyo Direktur Aksansi pusat, karena Kota Mojokerto sebagai pilot projek program Retrofiting. Tahun 2017 lalu Aksansi Kota Mojokerto telah melaksanakan program retrofitting Sanimas Sanubari dan Sanimas Balong asri Kelurahan Balongsari melalui Dinas PKP.  Dari pengalaman kegiatan tersebut dipandang perlu untuk didiseminasikan dengan Aksansi lain dari Jawa Timur sebagai bentuk pembelajaran. “ Kota Mojokerto selalu jadi pilot projek dalam bidang sanitasi, mulai dari pembangunan Sanimas dan Retrofiting adalah yang pertama kali di Indonesia” katanya.

Sony Basuki Raharjo saat presentasi program Sanitasi-an


Retrofitting yang dimaksud adalah mengkombinasikan jamban keluarga dengan Sanimas terdekat dengan model pemipaan. “Warga tetap BAB di rumah namun ipal tersentral di  Sanimas” terangnya. Rerofiting merupakan solusi pemanfaatan kembali sarana Sanitasi masyarakat (Sanimas) yang sudah ditingal pengguna. Dengan retrofitting, ini maka Bangunan Sanimas yang terancam jadi monumen dapat difungsikan kembali.  Selain itu jamban keluarga yang dimiliki oleh masyarakat masih belum dijamin standart sanitasinya, karena sebagaian besar jarak septitank tidak memenuhi standar minimal 10 m sehingga saat terjadi kebocoran maka bacteri e-coli tinggi.

para peserta Diseminasi se-Jawa Timur-an


Hadir selaku Narasumber, Sony Basuki Raharjo, SH,MH Wakil Ketua DPRD Kota Mojokerto, Subektiarso, SH Sekretaris Dinas Perumahan dan Permukiman (Dinas PKP), Dra. Cristiana Indah Wahyu, Apt,M.Si Kepala Dinas Kesehatan Kota Mojokerto serta hadir pula Tim Koordinasi Kerjasama Daerah dari BPPKA, Bagian Hukum dan Bagian Pemerintahan.

Pada kesempatan tersebut, Sony mereview kembali perjalanan Sanimas pertama kali di Kota Mojokerto pada tahun 2002 lalu.  Saat itu dirinya menjadi Tenaga Fasilitator Lapangan (TFL). Hingga beberapa tahun kemudian, Sony sangat konsen dengan pembangunan Sanitasi Berbasis Masyarakat. Kehadiran Sanimas diakui oleh Sony mampu merubah image masyarakat dari BABS menuju Sanimas. Sejarah Sanimas di Kota Mojokerto terus berkembang hingga sebanyak 26 titik menyebar di 18 Kelurahan. Pemeritah Kota Mojokerto terus konsisten membangun sarana sanitasi dengan berbagai strategi, selain Sanimas juga ada program PNPM, Jasmas dan  Ipal Komunal yang saat ini lagi trend. Sehingga berdampak Sanimas mulai ditinggal pengguna. Oleh karena itu Sony sepakat dengan model Retrofitiing yang digagas oleh Aksansi, selain biaya lebih efisien standarisasi sanitasi dapat dipertanggungjawabkan.

Sementara itu Subektiarso selaku OPD yang menangani teknis  sangat mendukung dengan program Retrofiting ini.  Menurutnya, Sanimas yang ada perlu dilakukan pemetaan, Sanimas yang masih aktif, Sanimas yang ditinggal pengguna namun dekat dengan pemukiman atau sanimas yang kondisi fisik dan instalasinya yang sudah rusak. “Ini adalah tugas Aksansi daerah untuk melakukan monitoring asset tersebut” jelas Bekti panggilan akrabnya. Selain itu Bekti juga berharap agar Kota Mojokerto segera memiliki Intalasi Pengelolaan Limbah Terpadu. Harus kita pikirkan, paska pembangunan Ipal Komunal, dan Sanimas bagaimana system pengurasannya nanti, siapa yang bertanggungjawab biayanya dan mau dibuang kemana” jelasnya. KSM dan KPP yang dibentuk paska proyek hanya mampu memungut iuran pengguna rata-rata 10 ribu rupiah/bulan dan ini hanya cukup untuk bayar listrik dan kerusakan-kerusakan kecil, lanjutnya.

Ide ini juga direspon oleh Aksansi dan pihak Borda bahwa untuk kawasan perkotaan yang sulit dengan penyediaan lahan, ada pembangunan IPLT skala mini dan ini sangat cocok untuk Kota Mojokerto. “tidak harus IPLT skala kota namun bisa dibangun skala kecamatan” kata Prawestri perwakilan Borda yang turut hadir.

Gayung bersambut program yang dilaksanakan Aksansi sangat membantu Pemerintah Kota Mojokerto. Indah berharap Aksansi dapat melanjutkan kerjasamanya yang berakhir tahun 2018 lalu. “Aksansi dapat membantu Pemerintah Kota Mojokerto menuntaskan ODF dan permasalahan air limbah. Fakta yang ada kata Indah, kasus diare di Kota Mojokerto lebih tinggi dibanding penyakit lainnya. Selain memiliki keahlian dalam bidang teknis Aksansi juga meningkatkan pemberdayaan masyarakatnya” terang Indah. (an)
Bagikan berita ini:

Berita Terkait: