Mengangkat Ikan Rengkik Sebagai Ikon Masih Terkendala

gambar utama
Ketua TP PKK Kota Mojokerto dalam acara Gemarikan-an
MOJOKERTO - (GEMA MEDIA) - Mewujudkan ikan rengkik sebagai salah satu ikon di Kota Mojokerto, masih mengalami banyak kendala. Selain populasinya yang masih sedikit, program budidaya ikan air tawar yang satu ini juga tergolong sedikit rumit dan membutuhkan waktu yang lama. Hal ini disampaikan oleh Kabid Perikanan dan Peternakan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Mojokerto, Drs. Supriyanto, saat ditemui di Kantornya, Kamis (4/4/2019).

Menurut Supriyanto, budidaya ikan rengkik memang tidak mudah. Karena jenis ikan air tawar ini lebih cenderung berada di habitat arus air yang mengalir secara terus menerus. "Di sini kita mencoba untuk memakai cara berbeda agar ikan rengkik bisa dibudidayakan melalui pemijahan dan perawatan bibit dengan media kolam," katanya.

Dengan membuat arus buatan di dalam kolam diharapkan ikan bisa beradaptasi seperti halnya habitat aslinya. Selain itu, untuk lebih mempermudah budidaya karena bisa dikontrol secara langsung.  Namun para peternak ikan di Kota Mojokerto belum seluruhnya mau menjadi pembudidaya ikan rengkik. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi diantaranya ialah faktor kesulitan yang cukup tinggi dibandingkan memelihara ikan lele, patin maupun gurami.

"Para peternak banyak yang menolak jika kita ajak untuk belajar budidaya ikan rengkik. Padahal, ikan rengkik ini akan dijadikan ikon Kota Mojokerto," imbuhnya. Masih lanjut Supriyanto, hal ini juga menjadi salah satu kendala untuk bisa memasyarakatkan ikan rengkik dan menjadikannya sebagai ikon kota. Selain itu, masa panennyapun cukup lama yaitu sekitar 12 bulan baru bisa dipanen.

juri sedang menilai lomba masak ikan rengkik-an


Selama ini, pemerintah sudah berupaya untuk memfasilitasi para peternak. Diantaranya pemberian bimtek tentang budidaya ikan rengkik, pemberian bibit ikan, makanan awal, hingga beberapa perlengkapan yang dibutuhkan.

"Pemerintah sudah memberikan beberapa fasilitas dan tidak mungkin menyupport secara terus menerus hingga panen. Itu yang mungkin membuat peternak tidak mau melakukan budidaya ikan rengkik," paparnya. Selain itu, Supriyanto juga menyampaikan jika pangsa pasar ikan rengkik itu sendiri juga belum banyak. Hanya beberapa depot makan saja yang sudah memesan, namun itu pun belum bisa terpenuhi karena memang budidaya ikan rengkik belum benar-benar siap.

"Kami berharap, dengan terus melakukan inovasi terkait cara budidaya dan pembesaran, bisa memproduksi ikan rengkik dalam jumlah yang banyak dan peternak di Kota Mojokerto juga mau belajar menjadi pembudidaya agar benar-benar bisa menjadi ikon Kota Mojokerto," pungkasnya.(ron/an)
Bagikan berita ini:

Berita Terkait: