Hari Gizi Nasional 2022, Cek 5 Disinformasi Seputar Gizi Berikut

gambar utama
Herlina Mei Wulandari seorang nutrisionis di RSUD Dr. Wahidin Sudiro Husodo,- yoga
Kota Mojokerto-GEMA MEDIA : Melihat bayi atau balita yang gemuk mungkin nampak lucu dan menggemaskan. Bahkan tidak sedikit yang juga menyebutnya sehat.

Mendapati buah hati yang tidak rewel pilah-pilih makanan, mungkin terasa menenangkan. Sehingga sering kali orang tua akan memberikan makanan apapun, asal sang buah hati makan.

Namun, tepatkah hal demikian? Menurut Herlina Mei Wulandari seorang nutrisionis di RSUD Dr. Wahidin Sudiro Husodo, konsep tersebut keliru dan tergolong fatal. Ia juga menyebut bahwa selain dua hal di atas, sejatinya masih banyak informasi tidak tepat yang terlanjur tersebar masif dan dipercaya masyarakat.

 

Lebih lanjut, berdasarkan wawancara langsung  Kamis (20/1) lalu, berikut sejumlah disinformasi seputar persoalan gizi yang banyak dijumpai di tengah masyarakat:

  1. 1. Gemuk tidak sama dengan sehat.


Tidak salah jika mendapati bayi atau balita gemuk itu tampak lucu dan menggemaskan. Namun, apabila lantas berpikir itu sehat, tentu tidaklah tepat.  “Banyak diantara ibu-ibu yang punya anak gemuk itu senang, dia bilang kalau gemuk itu anaknya lucu. Padahal itu tanda terjadi ketidakseimbangan gizi dalam tubuh anak,” ujar sosok yang telah menjalani profesi ahli gizi sejak 1988 tersebut.

Ia menjelaskan bahwa, hal tersebut menandakan anak telah kelebihan kalori, sementara zat gizi lainnya kekurangan.  Apabila terus berlanjut, akan terjadi obesitas pada anak, yang tentu akan membahayakan Kesehatan anak.

Kelebihan berat badan akan berpotensi memunculkan berbagai penyakit mengerikan pada anak. Misalnya seperti diabetes mellitus, penyakit jantung, gangguan hormonal, gangguan pernapasan, dan masih banyak lagi.

  1. Makan apa saja, asal suka.


Melihat anak memiliki nafsu makan yang baik tentu menjadi sebuah dambaan bagi para orang tua. Namun, dewasa ini terdapat pergeseran mengenai konsumsi jenis makanan yang popular dan disukai oleh anak-anak. Mereka cenderung lebih suka makanan manis, gurih, kaya rasa, dengan tekstur yang menyenangkan, yang terdapat pada aneka gula-gula, makanan instant dan cepat saji.

“Terlebih dahulu, orang tua harus memiliki kesadaran tentang pentingnya gizi seimbang pada anak. Karena edukasi yang paling efektif memang dari orang tua. Makanan apa yang diberikan kepada anak sehari-hari, secara tidak langsung akan mengedukasi anak-anak,” ucap Herlina.

Apabila orang tua tidak memberi perhatian khusus pada gizi anak, tentu sangat mungkin bagi anak untuk menderita stunting (kekurangan gizi) ataupun obesitas (kelebihan gizi).

 

  1. 3. Kurus atau gemuk itu karena faktor genetik.


Saya sudah makan banyak, tapi tidak kunjung bertambah berat badan.

Saya makannya hanya sedikit, tapi cepat sekali gemuk.

Pantas saja saya gemuk, orang tua saya memang juga gemuk, dan juga sebaliknya.

Ketika mendengar ungkapan-ungkapan diatas, sering kali akan berujung pada kesimpulan: semua karena faktor genetik. Faktanya, hal tersebut juga tidak benar.

“Kalau jaman dulu, banyak yang bilang anaknya pendek karena orang tuanya pendek. Kesannya, itu karena faktor genetik.  Tapi saat ini, konsep seperti itu sudah tidak berlaku di ilmu gizi.  Itu termasuk persoalan yang mengindikasikan kalau zat gizinya belum seimbang,” jelas sosok yang meraih gelar sarjananya di Stikes Surabaya.

Ia meluruskan, bahwa yang perlu dicermati adalah setiap individu memiliki tingkat metabolisme yang berbeda-beda. Sehingga kebutuhan asupan gizi yang dikonsumsi sehari-hari harus memperhatikan faktor tersebut.

 

  1. Makanan sehat itu mahal.


“Untuk hidup sehat itu tidak mahal. Jauh lebih mudah,” tegas Herlina.

Menyebut pola makan sehat itu mahal merupakan suatu kesimpulan yang terburu-buru. Ia menjelaskan lebih lanjut bahwa makanan sehat bisa didapat dengan mudah dan murah. Masyarakat hanya perlu benar-benar tahu bagaimana memanfaatkan bahan-bahan yang tersedia dan murah di sekitarnya agar menjadi makanan sehat.

Mungkin akan membutuhkan usaha lebih, dibanding mengonsumsi makanan tidak bergizi. Tapi, jika berpikir jangka panjang, agaknya biaya dikeluarkan akan jauh lebih murah. Mengingat, dampak  gaya hidup tidak sehat yang cenderung menimbulkan penyakit dengan biaya pengobatan mahal.

 

  1. Gaya hidup makan sehat berarti tidak boleh jajan.


Perkembangan teknologi, seperti kehadiran layanan pesan antar on line tentu sangat memudahkan siapa saja. Termasuk perihal membeli makanan. Selain mudah dan praktis, begitu banyak pilihan dengan tawaran harga yang menggiurkan semakin sulit bagi siapa saja untuk menolak.

Namun, nyatanya fenomena tersebut belakangan memancing kekhawatiran. Sebab terjadi perubahan pola konsumsi masyarakat.  Makanan kekinian yang kurang sehat cenderung lebih diminati oleh kebanyakan pengguna.

“Gapapa pesan-pesan makanan di aplikasi atau beli makanan di luar, asal tahu apa yang dimakan, sehat atau tidak. Batasnya sampai mana juga harus tahu,” ujar perempuan berusia 57 tahun itu. Menurutnya, kuncinya adalah mengendalikan, yang mana kendali itu berada di tangan masing-masing individu.

Misinformasi tentu tidak terbatas pada lima hal di atas. Masih banyak lagi. Namun, dalam rangka memperingati Hari Gizi Nasional yang jatuh pada hari ini (25/1), semoga tulisan ini dapat menjadi pemantik semangat bersama agar lebih melek gizi.

Kesadaran mengkonsumsi makanan yang bergizi jelas penting. Sebab, gizi menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang manusia, tidak hanya fisik melainkan juga kecerdasan otak. Kedepan, bagaimana Indonesia bisa menjadi negara yang maju, apabila saat ini masih banyak masalah gizi di masyarakat, terutama anak-anak dan generasi muda.

Penyelesaian beragam persoalan akibat ketimpangan gizi yang belakangan makin marak bukan hanya tugas para tenaga kesehatan. Melainkan, diperlukan juga ikut serta dari berbagai pihak. “Memang tugas utama ada di nakes, tapi tentu perlu upaya dari berbagai pihak. Baik dari pemerintah, media, dan beragam elemen masyarakat lainnya,” pungkas Herlina. (EL/an)

 

 
Bagikan berita ini:

Berita Terkait: