Ketua DPC Patelki Kota Mojokerto Erri Muda Robuta S.ST, SH-jen
MOJOKERTO-GEMA MEDIA : Di tengah merebahnya pandemi covid-19 di Dunia tak terkecuali di Indonesia, yang sudah menelan banyak korban jiwa dari segala golongan masyarakat. Terlebih para tenaga medis sebagai garda terdepan dalam menangani wabah ini. Banyak polemik muncul dan beredarnya berita hoax yang belum pasti kebenaranya menambah kekhawatiran masyarakat.
Seperti halnya penolakan pemakaman warga yang terpapar oleh virus corona yang dalam istilah medis Sars Covid-19. Kasus yang baru-baru ini terjadi yakni penolakan pemakaman Tenaga Kesehatan di Jawa Tengah yang meninggal akibat terpapar virus corona.
Ketua PATELKI JATIM Luki Herli Purniawan S.ST-jen
Hal tersebut memantik keprihatinan yang mendalam bagi tenaga medis antara lain salah satu Organisasi Profesi Persatuan Ahli Teknologi Laboratorium Medik (PATELKI), yang langsung mengeluarkan surat edaran dengan nomor :0139/Org/PATELKI-XVI/04/2020 terkait penolakan pemakaman Tenaga Kesehatan yang meninggal akibat terpapar virus corona di Jawa Tengah.
Dalam isi surat tersebut Ketua Patelki Jawa Timur Luki Herli Purniawan, S.ST, menyikapi rekan seperjuangan anggota Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jawa Tengah yang meninggal akibat terpapar virus corona saat bertugas, dan mendapatkan stigma negatif masyarakat berupa penolakan pemakaman di kampung halamannya.
"Sebagai bentuk solidaritas DPW Patelki Jatim mengintruksikan kepada seluruh anggota Dpc se Jawa Timur untuk memasang pita hitam di lengan sebelah kanan pada tanggal 13 April 2020," imbaunya.
Menanggapi instruksi dari DPW PATELKI Jawa Timur, Ketua DPC PATELKI Kota Mojokerto langsung merespon cepat. Saat di hubungi melalui telepon, Erri Muda Robuta, S.ST, SH selaku Ketua mengatakan, sebagai rekan sesama Tenaga Kesahatan (Nakes) saya cukup prihatin atas Kejadian di Jawa Tengah. Sebagai tenaga medis perawat, dokter, dan Analis kesehatan (laboratorium) juga pekerja medis lainya adalah garda yang rawan terpapar corona atau Covid-19.
"Kerawanan paling tinggi itu adalah tenaga kesehatan yang tidak ada di ruang isolasi. Kalau di ruang isolasi, mereka sudah sadar sehingga memakai alat pelindung diri. Kalau di bagian lain, APD-nya hanya secukupnya, jadi rawan terpapar," jelas Erri sapaan akrabnya, yang bekerja di Laboratorium di salah satu rumah sakit ternama di Kota Mojokerto. Jumat, (10/4/2020).
ATLM (Alhi Teknologi Laboratorium Medik) sedang mengerjakan Sampling darah sebelum di diagnosa-jen
Diapun meminta anggotanya untuk memakai pita hitam di lengan kanannya pada Senin, 13 April 2020 sebagai bentuk solidaritas.
Saya menghimbau, lanjutanya, kepada anggota dan rekan rekan ATLM (Ahli Teknologi Laboratorium Medik) sebelum maju menghadapi pasien wajib menggunakan APD (Alat Pelindung Diri) sesuai dengan tingkat keamanan yang sarankan oleh WHO.
"Saya berpesan jangan lupa berdo'a dan jaga kesehatan serta memakai APD saat bertugas, karena kita garda terdepan sebagai Nakes yang berjuang dalam penanganan wabah virus corona ini," pesannya. (Jen/an)