FKS KOTA MOJOKERTO BELAJAR OLAH LIMBAH DIAPERS KE FKS KOTA BATU

gambar utama
Forum Kota Mojokerto Sehat Study Tiru di Forum Kota Batu Sehat-an
MOJOKERTO-GEMA MEDIA : Diapers jenis popok yang banyak digunakan oleh masyarakat kita utamanya bagi bayi usia 0 sd. 2 tahun  limbahnya masih menyisakan persoalan terhadap pencemaran lingkungan.  Limbah Diapers popok modern ini kategori bahan bekas berbahaya (B3) karena didalamnya bekas air kencing dan kotoran manusia.  Oleh karena itu berbagai upaya dilakukan untuk mengatasi limbah yang satu ini menjadi bahan yang lebih bermanfaat dan lingkungan menjadi sehat.

Di Kota Batu ternyata sudah ada inovasi pengelolaan limbah diapers menjadi suatu produk pot bunga/tanaman. Bank Sampah  “Nusa Indah 5” salah satunya di Kelurahan Temas, binaan Forum Kota Batu Sehat telah mengelola limbah diapers ini menjadi pot bunga yang sangat cantik.  Untuk mengetahui lebih jelas tentang cara mengolah sampah popok tersebut, Forum Kota Mojokerto Sehat melakukan study tiru ke Forum Kota Batu Sehat, Jumat 13/12/2019.

Rombongan berjumlah 30 orang terdiri dari FKS, perwakilan FKKS Kecamatan dan tim Pembina dari Bappeko dan Dinkes. Rombongan diterima oleh Rizaldi, ST,M.Sc,M.Eng Kabib Perencanaan Pembangunan Manusia Sosbud dan Pemerintahan pada Bappelitbangda  Kota Batu  bertempat di Balai Kota Among Tani.

dari kiri : Rizaldi dan Arif saat penerimaan rombongan study-an


Arif Eko, Yulianto, S.Sos, MM Kabid Sosbud Bappeko Mojokerto tim Pembina selaku pimpinan rombongan menyampaikan bahwa, tujuan kunjungan ke Kota Batu ini selain silaturahmi adalah belajar dari dekat tentang cara mengelola limbah diapers agar dapat diadopsi di Kota Mojokerto. Mengingat limbah diapers ini masih belum dapat terkelola dengan baik, sehingga menimbulkan pencemaran lingkungan. “orang kuno dulu berkeyakinan kalau popok bayi dibakar bayinya bisa suleten, akhirnya dibuang  begitu saja bahkan tidak sedikit yang dibuang ke sungai dengan maksud bayinya tidak kepanasan” katanya. Dengan semangat Amati Tiru dan Modifikasi (ATM) Kota Mojokerto bertekad untuk mengelola limbah diapers tersebut.

Menanggapi maksud tersebut Rizaldi menyambut gembira atas kunjungan Kota Mojokerto. Pihaknya mengapresiasi atas inisiatif untuk belajar mengolah limbah diapers di Kota Batu. Untuk lebih jelas tentang  teknisnya, rombongan dipersilahkan langsung ke lokus. Bersama FKS Kota Batu rombongan menuju TPST dan Bank Sampah untuk melihat dan praktek langsung  cara  membuat pot tanaman yang dipandu oleh Zumaroh ketua Bank Sampah Nusa Indah 5 Kelurahan Temas. Dijelaskan oleh Zumaroh bahwa untuk membuat pot ini dibutuhkan pot plastic sebagai cetakannya. Bahan tambahan cukup semen dan lem perekat dicampur dengan air agak encer lalu popok  bekas yang sudah dicuci  bersih dan kering dibalurkan ke larutan semen hingga merata. Popok tadi dibalutkan di cetakan  hingga 4 – 5 popok lalu dirapikan setelah kering baru dilepas dan bisa dicat dengan warna sesuai selera kita.

Foto bersama FKS Mojokerto dan FKS Kota Batu serta pengurus Bank Sampah Nusa Indah 5 usai praktek membuat pot bekas diapers-an


Salma Safitri AR Rizaldi ketua Forum Kota Batu Sehat menyampaikan, untuk pengelolaan limbah ini Pemerintah Daerah juga  menyediakan container yang di taruh di Balai Desa dan Kelurahan.  Dari container itu masyarakat bisa mencucinya  hingga bersih dan dijual ke Bank Sampah.  Limbah yang lentur, bersih dan kering ini dibeli dengan harga 200-300 rupiah / biji. “ibu-ibu yang punya bayi kita edukasi agar popoknya dicuci bersih dan Bank Sampah siap beli” terang Fifi. Di Kota Batu sudah banyak Bank Sampah dan beberapa warga yang berinovasi membuat produk dari diapers bekas. Selain Pot juga, ada yang buat Tas dan patung kuda dan bentuk lain.

Ditambahkan oleh Riani ketua, SH, M.Si Forum Kota Mojokerto sehat bahwa, Kota Batu dan Kota Mojokerto adalah satu kelas dalam kategori Swasti Saba Wiwerda yang akan naik kelas ke Swasti Saba Wistara.  “kami masing-masing memiliki inovasi lebih dari 15 kegiatan. Dari Inovasi tersebut bisa saling berbagi. Oleh karena itu Kota Mojokerto juga siap berbagi pengalamanan kemungkinan ada inovasi di Kota Mojokerto yang perlu didopsi oleh Kota Batu. Mengingat dari tatanan yang diambil tidak sama disesuaikan dengan kesiapan Kab/Kota masing-masing.” terang Riani. (an)
Bagikan berita ini:

Berita Terkait: