MOJOKERTO-GEMA MEDIA : Komunikasi adalah suatu hal yang sangat penting untuk dimiliki setiap orang. Terjadinya miss komunikasi bisa berakibat fatal, bahkan gagalnya sebuah tujuan. Untuk itu belajar ilmu komunikasi berlaku untuk siapapun dan dimanapun disesuaikan dengan situasi dan kondisi lingkungan.
Sebagai seorang kader, juga sangat penting memiliki keterampilan dalam berkomunikasi. Agar pesan atau ajakan yang mengandung misi edukasi dan solusi dapat mencapai tujuan. Seperti halnya kader Aisyiyah Kota Mojokerto. Relawan yang berjuang membantu pemerintah dalam mencegah terjadinya penularan TBC ini mengikuti pelatihan ilmu komunikasi dan pemberdayaan masyarakat.
Giat belajar bersama ini diselenggarakan oleh PD Asisyiyah Kota Mojokerto bertempat di Aula DPD PPNI Jabon Kab.Mojokerto. Kegiatan yang berlangsung mulai tanggal 29 -30 April dan 2-3 Mei 2019 dikemas dalam acara Re-Training SSR Kota Mojoketo.
Dalam re-training kali ini menghadirkan narasumber para praktisi komunikasi, diantaranya Jeky dari Maja Fm, Dr. Djoni dari RS. Hasanah dan Dr. Windu Santoso, S,Kp.M.Kep dari forum Kota Mojokerto Sehat.
Tatik Lutfiati Sekretaris PD Aisyiyah Kota Mojokerto menuturkan, jumlah kader TB Care Aisyiyah yang sudah direkrut dan mengikuti pembekalan sebanyak 48 orang. Jumlah ini menyebar ke seluruh Kelurahan, utamanya adalah kantong TB. Pelatihan dan pembekalan secara bertaha tiap tahun dilaksanakan. Untuk tahun ini diikuti sebanyak 28 orang.
Dengan pelatihan ini diharapkan para relawan TB ini mampu melaksanakan tugas sosialnya sebagai Pengawas/pendamping Minum Obat (PMO). Apalah artinya suspect ditemukan ketika penderita positif TBC tidak mau berobat secara teratur.Untuk bisa sembuh penderita TBC harus berobat selama 6 (enam) bulan tidak terputus.
Hal ini sangat penting sekali, sebab jika si penderita, berhenti minum obat maka bakteri terus menyebar saat kontak dengan orang lain. Jika minum obat tidak tuntas, penderita bisa kambuh bahkan kebal obat akhinya menjadi TBC MDR (Multidrug Resistant). Jika sudah TBC MDR, pengobatannya harus di Rumah Sakit/Puskesmas selama 2 (dua) tahun karena ada obat injeksi. Tentunya hal itu tidak kita inginkan, penyakit TBC harus dicegah baik secara preventif maupun kuratif.
Narasumber sedang memberikan materi -an
Pada kesempatan tersebut Windu Santoso menegaskan, Kader yang handal harus memiliki kemampuan komunikasi dan pemahaman materi tentang Tuberkulosis, pengetahuan tentang proses perubahan perilaku dan bagaimana proses terjadinya perubahan akan meningkatkan kemampuan kader TB, yang pada akhirnya akan memberdayakan kader di kota Mojokerto. “Sebagai pengurus kota sehat,saya berupaya memberikan motivasi kepada seluruh kader untuk lebih berkomitmen dalam menjalankan tugas. Pelatihan semacam ini akan sangat berdampak pada penguatan motivasi kader sehingga diharapkan kader yang telah memiliki kemampuan dasar yang baik menjadi lebih berdaya” kata Doktor ini.
Penekanan pentingnya memahami perubahan perilaku yang terjadi akibat penyakit kronis menahun (tuberkulosis) dengan pengobatan relatif membutuhkan waktu yang lama sangat penting bagi kader yang akan mendampingi suspek TB dalam rangka menjalani pemeriksaan dan pengobatan tuberkulosis sampai sembuh.(an)