Serius Tangani Persoalan Sampah, Pemkot Mojokerto Optimalkan Peran Bank Sampah

gambar utama
Sekdakot sidak kei Bank Sampah Induk disambut oleh wakil direktur BSI-zan
Kota Mojokerto-GEMA MEDIA: Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Randegan, Kota Mojokerto dikhawatirkan akan semakin mengalami kelebihan kapasitas (overload) dalam waktu dekat, jika upaya pengurangan timbunan sampah tidak dilakukan. Demi mengatasi persoalan tersebut Pemkot Mojokerto melakukan sejumlah upaya sebagai strategi untuk mengurangi timbulan sampah yang berakhir di TPA.

Diantaranya, Pemkot Mojokerto berupaya untuk mengaktifkan dan mengoptimalkan bank sampah secara masif yang tersebar di tingkat RW se- Kota Mojokerto. Mengingat, hingga saat ini yang terhitung aktif beroperasi masih sekitar 70 dari total ada 154 bank sampah yang tersebar se-Kota Mojokerto.

"Pengaktifan bank sampah ini penting, karena jenis sampah tertentu sudah terpilah dari sumbernya -rumah tangga, sehingga nantinya dapat mengurangi jumlah sampah yang dibuang di TPA," ujar Sekretaris Daerah Kota (Sekdakot) Mojokerto Gaguk Tri Prasetyo saat melakukan inspeksi Bank Sampah Induk (BSI) di TPA Randegan, Rabu (26/4/2023).

Karenanya, untuk mendukung optimalisasi bank sampah ini, Pemkot Mojokerto terutama melalui Dinas Lingkungan Hidup akan semakin gencar melakukan monitoring dan meningkatkan sejumlah sarana dan prasarana yang menunjang kemudahan masyarakat dalam memanfaatkan bank sampah, salah satunya melalui pemanfaatan web dan aplikasi digital.Perlu diketahui, saat ini Pemkot Mojokerto telah memiliki aplikasi Bajak Sambal Terasi (bayar pajak pakai sampah bisa langsung dan terintegrasi) pada laman bajaksambalterasi.mojokertokota.go.id, yang dikelola oleh BPKPD (Badan Pengelolaan Keuangan dan Pajak Daerah). Keberadaan aplikasi tersebut membantu pencatatan secara digital seluruh transaksi di bank sampah dan pembayaran pajak warga dengan hasil penjual sampah di bank sampah.

didampingi plt. Kepala Dinas Lingkungan hidup, Sekdakot berkunjung ke BSI-zan


"Namun, bank sampah masih perlu lebih dikenal dan diketahui lagi oleh masyarakat. Salah satu caranya akan dikembangkan website BSI, menambahkan profile, susunan pengurus, visi-misi, dan proker. Sehingga dengan adanya proker, bisa terpantau capaian-capaiannya apa saja, dan mana saja yang perlu ditingkatkan," ungkap Gaguk.

Selain itu, juga akan edukasi terkait pengelolaan sampah juga akan dimasifkan lagi, yaitu berkolaborasi dengan OPD lain, seperti Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas PUPR dan Perakim, dan sebagainya.

Tidak hanya melalui bank sampah, pengurangan timbulan sampah khususnya jenis organik juga dilakukan dengan budidaya Maggot. Program tersebut telah diinisiasi oleh Kelurahan Prajuritkulon dan berhasil menerima penghargaan IGA Awards 2022."Sebagaimana arahan dari Bu Wali, budidaya maggot untuk memanfaatkan sampah organik akan lebih dimasifkan lagi. Jadi tidak hanya di Kelurahan Prajuritkulon. Saat ini yang sudah ada dan berkembang dengan baik, contohnya di TPS Magersari," terang Plt DLH Amin Wachid yang juga turut mendampingi Sekdakot.

Petugas bank sampah melakukan pencatatan saat petugas BSI melakukan pengambilan-dok


Berikutnya, pihak Forum Kota Mojokerto Sehat (FKMS) juga mengusulkan adanya penerapan di bank sampah di kantor-kantor OPD. Mengingat, OPD juga menjadi sumber timbunan sampah yang cukup besar. ‘Jika semua sampah dipilah dari sumbernya, maka tidak akan berakhir di TPA. Sampah kering dijual ke pihak ketiga/perusahan dan sampah organik untuk budidaya maggot atau buat pupuk kompos. Maka sampah yang ke TPA tinggal residunya saja dan volumenya jauh lebih kecil” ungkap Riani yang juga Direktur BSI.

OPD ini juga diharapkan bisa menjadi contoh untuk masyarakat. Sehingga tidak hanya rumah tangga saja yang punya tanggung jawab pemilahan sampah, namun semua pihak termasuk sektor swasta/dunia usaha, pungkasnya. (EL/an)
Bagikan berita ini:

Berita Terkait: