Mengenal Pitra, Sosok Berdaya bagi Keluarga dan Masyarakat

gambar utama
Pitra Candra Kartika didampingi Ketua TP-PKK Kota Mojokerto saat terima penghargaan dari isteri Presiden dan Wakil Presiden-dok

Kota Mojokerto-GEMA MEDIA: Keluarga dikenal sebagai unit terkecil di masyarakat. Namun, perannya dalam menciptakan masyarakat madani serta menyukseskan pembangunan nasional tidak bisa dianggap kecil. Justru keluarga menjadi garda terdepan dalam hal tersebut.

Melalui sosok Pitra Candra Kartika, peran keluarga begitu jelas. Warga jalan Brawijaya, Mentikan tersebut menjadi salah satu contoh, bagaimana dedikasi seorang ibu dapat berdampak bagi keluarga dan masyarakat luas.

Perhatiannya, terutama dalam bidang pendidikan, pun lantas mengantarkannya sebagai penerima penghargaan Perempuan Berjasa dan Berprestasi dari Iriana Joko Widodo dan Wury Ma'ruf Amin, istri presiden dan wakil presiden, pada peringatan Hari Kartini (21/4) lalu.

Meskipun seorang lulusan SMA, ia begitu perhatian terhadap pendidikan sang anak. Menurutnya, pendidikan terbaik bagi anak bukan sekadar diwujudkan dengan memilih sekolah bertitel favorit. Tetapi yang terpenting yaitu nilai-nilai budi pekerti yang diajarkan oleh orang tua di keluarga.

"Sebagai ibu, saya ingin yang terbaik untuk anak saya. Karena anak sebagai generasi penerus, yang diharapkan tidak hanya memberi manfaat bagi keluarga tetapi juga masyarakat," ungkapnya saat diwawancara, Sabtu (14/5/2022).

Selain bagi putranya, ia juga menularkan perhatian tersebut kepada masyarakat di sekitarnya. Di rumah sederhananya, ia juga membuka les-lesan bagi anak-anak, baik pelajaran sekolah maupun mengaji.

Bahkan ia juga mendirikan "Sekolah Unik". Sebuah wadah bagi ibu-ibu di sekitarnya untuk belajar berbagai skill dan keterampilan. Seperti mengaji, menjahit, membuat kue, beternak ikan, dan lain-lain. Kegiatan tersebut diadakan rutin sepekan sekali di hari Jumat.

Penamaan tersebut dipilih lantaran sistem pembelajaran yang unik dengan mengusung istilah "semua guru, semua murid". "Jadi gurunya diambil dari muridnya. Kita saling bertukar pengetahuan. Untuk pelajaran menjahit kali ini dia menjadi murid, tapi berikutnya saat belajar membuat kue, dia jadi guru," jelasnya.

Lebih lanjut, ibu rumah tangga berusia 50 tahun tersebut memang dikenal aktif di berbagai kegiatan masyarakat. Terkait program Pemkot Mojokerto, ia aktif menjadi kader motivator serta ketua RW di lingkungan tempat tinggalnya.

"Jadi ibu rumah tangga bukan perkara mudah. Ia tidak sekadar tinggal di rumah, melakukan pekerjaan domestik. Tapi juga bersosialisasi dengan masyarakat dan berusaha untuk menebar manfaat sebanyak-banyaknya," ujar sosok yang akrab disapa Ibu Pitra ini dengan tegas.

Selain itu, Pitra juga getol dalam pergerakan akar rumput melalui JPPRI (Jaringan Perempuan Pekerja Rumahan Indonesia). Organisasi kepanjangan tangan ILO (International Layout Organization -organisasi buruh internasional di bawah PBB) ini merupakan wadah bagi para pekerja perempuan rumahan untuk memperjuangkan haknya sebagaimana pekerja pada umumnya. Ia menjabat sebagai Ketua JPPRI (Jaringan Perempuan Pekerja Rumahan Indonesia) Mojokerto, wakil ketua pada tingkat Jawa Timur, serta sekretaris di tingkat Nasional.


Berbagai amanah yang diembannya di masyarakat, tidak lantas membuatnya menomorduakan keluarga. "Kuncinya memang di komunikasi. Saya dan suami sudah komitmen sejak awal. Saya tidak bekerja, tapi aktif di masyarakat. Jadi tantangannya mengatur keuangan dan manajemen waktu," kata mbak Pipit.

di Gedung Grahadi Surabaya Pitra bersama tim pendamping dari Dinsos-dok


Berapapun penghasilan sang suami yang sehari-hari bekerja sebagai guru di sebuah sekolah dasar harus dikelola agar cukup. Tidak hanya untuk kebutuhan sehari-hari, melainkan juga ditabung.

Terkait membagi waktu, Pitra selalu berusaha untuk menerapkan disiplin waktu di keluarganya. Malam hari sejak memasuki Maghrib, menjadi waktu keluarga.
"Kami biasakan sholat berjamaah, kemudian disempatkan waktu berbincang. Membahas berbagai hal dengan seluruh anggota keluarga,"

Lebih lanjut, menurut ibu satu putra ini, dalam sebuah keluarga, nilai-nilai agama serta pemahaman terhadap masing-masing hak dan kewajiban anggota keluarga menjadi landasan penting dalam membangun keluarga.

"Pondasi agama ini penting, karena ketika kita dihadapkan berbagai perubahan, patokannya ya ajaran agama. Kemudian, ketika orang tua dan anak paham hak dan kewajiban, orang tua bertanggung jawab atas anak. Anak tetap hormat, patuh, tapi suara mereka juga didengar, tidak merasa terbebani," pungkasnya. (EL)

Bagikan berita ini:

Berita Terkait: