tim gemamedia saat membuktikan cita rasa sate Pak Jamil-zan
Kota Mojokerto- GEMA MEDIA :Sate menjadi salah satu kekayaan kuliner khas di tanah air. Secara umum, sajian tersebut berupa potongan daging –baik ayam, sapi, ataupun kerbau yang ditusuk dan dipanggang. Sejumlah daerah dikenal memiliki sate khas dengan keunikan rasa masing-masing. Salah satu varian sate langganan masyarakat Kota Mojokerto, termasuk Wali Kota Ika Puspitasari adalah Warung Sate Pak Djamil, yang berlokasi di Jalan Veteran, Mergelo, Magersari atau di depan sisi utara alun-alun Kota Mojokerto.
“Beberapa kali bu Walikota bersama tamu dari luar daerah, diajak makan disini,” ungkap Bu Mila, pemilik warung sate Pak Djamil, saat ditemui pada Rabu (5/1) lalu.
Sate Pak Djamil bisa dibilang berbeda dari sate kebanyakan. Bumbu kacang yang biasanya dijadikan siraman setelah proses pembakaran, kali ini justru dibuat lebih padat dan kaya rempah, lalu dibalutkan ke daging yang telah dimarinasi. Hasilnya, Sate Pak Djamil nampak lebih ‘gemuk’ dan tidak kalah menggoda.
sate Pak jamil yang gemuk dan empuk serta enak rasanya-zan
Lebih spesial lagi, potongan daging sapi yang digunakan untuk sate Pak Djamil hanya dipilih dari bagian has dalam yang biasa disebut tenderloin. Salah satu bagian di daerah punggung sapi tersebut terkenal rendah lemak dan paling empuk. Sehingga tidak perlu diragukan lagi, meskipun berdaging tebal dan tidak direbus sebelumnya, setiap gigitan sate Pak Djamil akan memiliki tekstur empuk dan lembut.
“Meskipun harganya lebih mahal, nggak kepikiran untuk ganti bagian daging sapi lainnya. Sudah resepnya seperti itu e. Saya kan jugan nggak mau mengecewakan pelanggan,” ungkap putri pertama Pak Djamil tersebut.
Bahkan, meskipun harga daging mengalami kenaikan, pihaknya juga tidak terpikir untuk mengurangi porsi daging yang dipakai atau kemudian menaikkan harga jual sate olahannya. Menurutnya, bukan masalah besar jika harus mendapat keuntungan yang mepet.
Maka tentu tidak mengherankan, berkat rasa yang otentik serta kualitas yang selalu terjaga inilah, warung sate Pak Djamil masih bisa bertahan hingga memasuki generasi ke tiga seperti saat ini. Bahkan, ditambah dengan maraknya pengguna media sosial sejak beberapa tahun belakangan, warung sate Pak Djamil semakin ramai.
Para pekerja yang sedang mengolah sate Pak Jamil -zan
“yang datang juga tidak hanya dari Mojokerto, dari luar juga, terutama kalau Sabtu-Minggu atau pas hari liburan lain,” tutur Bu Mila bersemangat.
Agar dapat memenuhi permintaan pelanggan dari berbagai wilayah dan generasi, tidak kurang dari 40 kg daging sapi berkualitas dihabiskan untuk bahan baku sate setiap harinya. Sedangkan pada hari tertentu, saat ada pesanan, daging sapi yang digunakan bisa mencapai satu kwintal atau lebih. Untuk itu, Bu Mila dibantu oleh sang anak serta 13 pegawainya.
Di warung sate Pak Djamil yang sederhana dan tidak terlalu luas tersebut, sate disajikan sebagai lauk utama. Pembeli bebas memilih antara nasi pecel, rawon, ataupun sayur sop. Semuanya cocok dan enak untuk dinikmati dengan didampingi sate empuk berbalut bumbu kacang-rempah tersebut. Namun, di antara semua kombinasi menu tadi, nasi pecel dan sate menjadi satu yang paling banyak di pesan konsumen.
“Karena memang aslinya, dari jaman bapak saya dulu kan cuma ada nasi pecel. Kalau menu yang lain itu termasuk baru. Baru ada sejak saya kelola”, tutur Bu Mila.
Warung sate Pak Djamil buka setiap hari –kecuali tiga hari terakhir tiap bulannya, sejak pukul 08.00 pagi hingga 14.00 siang. Jika ingin berkunjung pada hari kerja, terutama jam makan siang, harap untuk sedikit bersabar. Karena warung Pak Djamil akan penuh sesak. Sementara, jika akan mampir di akhir pekan atau hari libur, sebaiknya datang lebih awal. Karena biasanya menu yang ditawarkan sudah ludes sebelum jam tutup yang telah ditentukan.
Serta yang tidak kalah penting untuk menjadi catatan, warung sate Pak Djamil tidak memiliki cabang di tempat lain. “Saya tidak berniat untuk membuka cabang. Hanya ada satu di Kota Mojokerto, ya di sini ini”, tegasnya. (EL/an)