Berawal dari mengikuti inkubasi wirausaha bidang Jamu, Kini Fadilah Banjir Pesanan

gambar utama
Aris (kiri) dan Fadilah (ketua) dan anggota kelompok "Tri Buana Tungga Dewi" dalam usaha kunyit wuluh-dok
Kota Mojokerto-GEMA MEDIA : Tak disangka, berawal dari mengikuti pelatihan inkubasi wirausaha bidang jamu, kini banjir pesanan. Dia adalah Fadilah Utami Wahas, yang akrab disapa Dilah.  Sosok perempuan cantik yang tinggal di Murukan gg. 3 Kelurahan Surodinawan Kecamatan Prajuritkulon Kota Mojokerto, telah berhasil menerapkan ilmunya dalam membuat produk minuman jamu segar.

Dilah, semula adalah sosok Ibu Rumah tanga yang menekuni usaha bidang laundry.  Inkubasi wirausaha membuat produk jamu kategori minuman segar hanyalah sampingan. Ternyata tak disadari banyak pesanan, bahkan sampai kewalahan dan usaha loundrynya harus dikerjasamakan.

“Dulu saya hanya sekedar membuat minuman jamu  “Kunyit Wuluh” saya pikir tidak ada yang beli. Ternyata berlima dengan kelompoknya “kunyit Wuluh” mulai disukai banyak orang” ucapnya.

jamu Kunyit Wuluh produksi kelompok Tri Buana Tungga Dewi-dok


Produk minuman yang dinamai “Kunyit Wuluh”  karena berbahan dasar kunyit, blimbing wuluh, garam serta gula yang diolah sedemikian rupa dengan prinsip jaga kebersihan dan bebas bahan kimia, maka dapat menghasilkan minumn yang segar dn sehat.

Dipilihnya blimbing wuluh ini, mengingat di sekitar rumah banyak pohon blimbing wuluh yang kurang dimanfaatkan. Selain itu rasa masamnya blimbing wuluh ini berbeda dengan asam jawa. Selain itu juga menghasilkan pewarnaan yang bagus. “Kunyit Wuluh ini sangat segar saat diminum saat dingin”

Proses produksi jamu kunyit wuluh-dok


Minuman “Kunyit Wuluh” dikemas dalam botol plastik ukuran 350 ml sd. 500 ml harga mulai 5 ribu sd. 7 ribu rupiah bertahan sampai dengan 3 hari, namun jika di almari es bisa sampai 1 mingu.

Menurut Dilah, semua itu tidak lepas dari kerja timnya, Aris Harianto selaku sekretaris yang getol untuk mempromosikn secara manual. Yaitu dengan getok tular, dari mulut ke mulut, dari teman dan teman lainnya. Alhasil, dari produksi 5 botol, 10 botol hingga 50 botol untuk sekali pesanan perorang.

Aris juga mengaku, ilmu yang didapat dengan teman-temannya satu kelompok ini sangat bermanfaat. “ Saya mikir-mikir dulu, bagaimana cara memulainya, Bismillah dengan tekad yang kuat akhirnya jalan walaupun strategi pemasaran masih secara manual” katanya.

Aris yang juga pegiat organisasi kemasyarakatan, termasuk karangtaruna tingkat kota, dipastikan akses jejaring sangat banyak sebagai media promosi. Namun demikian aris dan kelompok “Tri Buana Tungga Dewi “ ini masih membutuhkan pendampingan lanjutan yaitu bidang marketing.

Selama 3 bulan sebelumnya terhitung mulai September sd. Desember ini, peserta menerima teori dan praktek serta pendampingan saat produksi. Dilanjut dengan materi administrasi manajeman, sehingga peserta dapat menghitung Biaya Pokok Produksi, ongkos tenaga kerja dan harga jual, serta perhitungan laba.

Selanjutnya kata Aris, pendampingan masih berlanjut sampai dengan 3 bulan lagi, jadi total 6 bulan untuk program inkubasi wirausaha yang diikutinya.

Aris dan kelompok Tri Buana Tungga Dewi ini kedepan berharap, agar pihak Pemkot melalui Diskopukmperindag dapat menfasilitasi sarana prasarananya, marketingnya, kalau ada event-event pameran dilibatkan agar bisa lebih dikenal. Selain itu kelompok ini juga berharap agar Pemkot dapat menfasilitasi Perizinan Produk Industri Rumah Tangga (PIRT), pungkasnya. (an)

 
Bagikan berita ini:

Berita Terkait: