Ning Ita dan suami berkunjung di rumah mbah Ngatemi disambut keluarga secara lesehan -raf
Mojokerto-GEMA MEDIA : Perjalanan jumat Barokah kali ini menyasar para lansia yang ada di wilayah Kelurahan Wates, Jumat 15/10/2021. Walikota Mojokerto Ika Pupitasari betul-betul sangat serius memberikan perhatian dan kepedulian kepada seluruh warganya, diantaranya warga lansia.
Sebuah program yang begitu menyentuh, Gerakan Ayo Tulung Tinulung Lansia (Gati lansia), sebagai bentuk tanggungjawab moral Kepala daerah sekaligus komitmen dalam mewujudkan usia harapan hidup. Saat bertandang ke rumah Ngatemi (72 tahun) warga Wates II/15 RT.001/RW.001, Ning Ita sapaan Walikota Mojokerto berdialog dengan keluarga.
Bersama suami Supriyadi Karima Syaiful, Ning Ita ikut duduk di lantai bersama dengan mbah Ngatemi yang didampingi putrinya Sunarti, dan suaminya Karen dan juga Jarwo Baskoro Ketua RW.01 lingkungan Wates Timur.
Sunarti lantas menceritakan, sebelumnya sang Ibu tinggal di Surabaya ikut anak pertamanya. Karena tidak bisa berkomunikasi, Mbah Ngatemi hanya bisa mendengar, dan tak jarang sering pergi dari rumah tanpa sepengetahuan anaknya.
Untuk hidup sehari-hari Mbah Ngatemi menunggu bantuan dari APBN berupa bantuan pangan Non Tunai (BPNT) dan penerima bantuan dari Program Keluarga Harapan (PKH). Untuk memastikan kecukupan biaya hidup Ning Ita memberikan bantuan untuk biaya pangan setiap hari berupa uang sebesar 30 ribu rupiah/hari atau 900 ribu rupiah/bulan.
Walau tidak bisa berkomunikasi, namun pandangan haru bahagia mbah Ngatemi tak bisa dipungkiri ingin berucap terim kasih kepada Ning Ita, namun sosok perempuan renta ini tak mampu berkata.
Dari Rumah mbah Ngatemi, Ning Ita menuju Rumah Mbah Senapi di wilayah yang sama. Beda lagi kisah mbah Senapi, perempuan renta yang berusia 85 tahun ini hidup sebatangkara menempati rumah kerabatnya. Dalam keseharian hidup mbah Senapi menggantungkan bantuan APBN – BPNT dan belas kasihan para tetangga.
Ning Ita dan suami di rumah mbah Senapi-zan
Namun mbah Senapi masih mempunyai pendirian yang kuat, seakan ingin mandiri tanpa bantuan orang lain. Kondisi rumah yang kumuh juga enggan dibantu oleh tetangga sekitar. Dalam kisahnya mbah Senapi dulu pernah menikah beberapa bulan kemudian berpisah dengan suaminya hingga kini tanpa seorang anak.
Ning Ita didampingi oleh Kadinsos , Camat magersari, Dinkes dan Lurah setempat juga menyerahkan bantuan pangan seberar 30 ribu rupiah/hari atau 900 ribu rupiah/bulan. Ucap mbah Senapi sesekali membuat ning Ita dan rombongan tertawa karena kepolosannya.
Atas bantuan ini Ning Ita minta, dikelola oleh Ketua PKK - RW bersama warga terdekat, untuk memastikan keterediaan menu makanan setiap hari.
Ning Ita disambut oleh lansia warga sekitar dengan penuh kasih sayang-zan
Perjalanan selanjutnya, Ning Ita bersama suami dengan mengendarai motor vispa menuju kediaman Amiyanto (64 tahun) di Karanglo V/ 2 Kelurahan Wates. Mbah kakung ini juga tinggal sendirian tanpa sanak saudara. Ning Ita adalah sosok pemimpin yang berempati tinggi ini,berkesempatan menyerahkan bantuan biaya pangan 30 ribu rupiah/hari atau 900 ribu rupiah/bulan.
Saat diwawancarai awak media, Ning Ita menjelaskan bahwa program gati lansia ini adalah merupakan bentuk gotong royong kerjasama dengan Baznas dan juga mencarikan orangtua asuh lansia. (an)