Dari Talk Show di Gema FM. 90,5 M.Hz. "PD. AISYIYAH BANTU DINKES INVESTIGASI KONTAK TBC DI KOTA MOJOKERTO"
MOJOKERTO-GEMA MEDIA: Zero TBC atau bebas penderita TBC merupakan cita-cita dan sekaligus target Pemerintah Indonesia tahun 2030. Untuk mewujudkan zero tersebut tentu tidak semudah membalikkan tangan. Untuk ini masih perlu waktu dan dukungan semua pihak. Hal yang paling penting adalah tingkat kesadaran masyarakat akan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Jika PHBS ini dapat dilakukan setiap saat dan dimanapun berada, maka merupakan langkah yang tepat mencegah wabah penyakit menular tersebut.
Penyakit TBC disebabkan oleh bakteri Micobacterium Tubercolosa, pada umumnya pada rumah kumuh dan lembab tanpa ada sinar matahari. Apalagi penularan TBC melalui udara, saat penderita batuk bisa menular kepada orang disekitar.
Untuk mendukung terwujudnya Zero TB, PD. Aisyiyah Kota Mojokerto bekerjasama dengan Global Fund membantu Dinas Kesehatan Kota Mojokerto dalam menemukan kasus TBC. Tidak dipungkuiri ada penderita yang enggan berobat karena malu atau factor lain. Tahun 2018 ini Aisyiyah melakukan program New Implementing Period, dalam rogram ini lebih kepada efektifitas penemuan kasus melalui investigasi kontak. Demikian disampaikan oleh Ana Hudiastutik koordinator program TB Care Aisyiyah saat menjadi Narasumber dalam talkshow di radio Gema FM. 90,5 M.Hz, rabu 12/12/2018.
Menurut Ana, saat ditemukan kasus tidak cukup hanya difasilitasi proses penyembuhannya. Akan tetapi perlu melihat penyebab dari timbulnya penyakit TBC tersebut. Misalnya rumah kumuh tanpa ventilasi, maka perlu ditindaklanjuti dengan gentengisasi. “ untuk tahun 2018 ini Aisyiyah sudah membantu genting kaca kepada warga yang rumahnya tidak ada cahaya matahari masuk” katanya. Kedepan pihaknya ingin bekerjasama dengan semua OPD, selain Dinas Kesehatan perlu berkolaborasi dengan Dinas Sosial, Dinas Perkim dan pihak lain yang terkait.
Testimoni dari Yuliana selaku masyarakat peduli TB warga Kedundung yang sudah terlatih hadir pula mendampingi narasumber, menceritakan untuk Investigasi kontak ini Ia melakukan wawancara skrining dengan warga utamanya disekitaran penderita. Data penderita TBC diperoleh dari Puskesmas, satu penderita positif maka 30 orang serumah dan se-erat yang menjadi sasaran. Jika hasilnya mengarah pada gejala yang ada maka diminta air ludahnya ditaruh disuatu tempat yang sudah disediakan,selanjutnya Yuliana memeriksakan ke Puskesmas. “masyarakat tidak perlu repot karena kader yang jalan” kata Yuli. Proses pemeriksaan hingga penyembuhan dan minum obat sampai sembuh kader setempat siap membantu.(ri)
Penyakit TBC disebabkan oleh bakteri Micobacterium Tubercolosa, pada umumnya pada rumah kumuh dan lembab tanpa ada sinar matahari. Apalagi penularan TBC melalui udara, saat penderita batuk bisa menular kepada orang disekitar.
Untuk mendukung terwujudnya Zero TB, PD. Aisyiyah Kota Mojokerto bekerjasama dengan Global Fund membantu Dinas Kesehatan Kota Mojokerto dalam menemukan kasus TBC. Tidak dipungkuiri ada penderita yang enggan berobat karena malu atau factor lain. Tahun 2018 ini Aisyiyah melakukan program New Implementing Period, dalam rogram ini lebih kepada efektifitas penemuan kasus melalui investigasi kontak. Demikian disampaikan oleh Ana Hudiastutik koordinator program TB Care Aisyiyah saat menjadi Narasumber dalam talkshow di radio Gema FM. 90,5 M.Hz, rabu 12/12/2018.
Menurut Ana, saat ditemukan kasus tidak cukup hanya difasilitasi proses penyembuhannya. Akan tetapi perlu melihat penyebab dari timbulnya penyakit TBC tersebut. Misalnya rumah kumuh tanpa ventilasi, maka perlu ditindaklanjuti dengan gentengisasi. “ untuk tahun 2018 ini Aisyiyah sudah membantu genting kaca kepada warga yang rumahnya tidak ada cahaya matahari masuk” katanya. Kedepan pihaknya ingin bekerjasama dengan semua OPD, selain Dinas Kesehatan perlu berkolaborasi dengan Dinas Sosial, Dinas Perkim dan pihak lain yang terkait.
Testimoni dari Yuliana selaku masyarakat peduli TB warga Kedundung yang sudah terlatih hadir pula mendampingi narasumber, menceritakan untuk Investigasi kontak ini Ia melakukan wawancara skrining dengan warga utamanya disekitaran penderita. Data penderita TBC diperoleh dari Puskesmas, satu penderita positif maka 30 orang serumah dan se-erat yang menjadi sasaran. Jika hasilnya mengarah pada gejala yang ada maka diminta air ludahnya ditaruh disuatu tempat yang sudah disediakan,selanjutnya Yuliana memeriksakan ke Puskesmas. “masyarakat tidak perlu repot karena kader yang jalan” kata Yuli. Proses pemeriksaan hingga penyembuhan dan minum obat sampai sembuh kader setempat siap membantu.(ri)

