Mojokerto-GEMA MEDIA : Agenda rutin setiap tahun sekali malam menjelang peringatan hari jadi Kota Mojokerto telah dibudayakan untuk melakukan Dzikir akbar. Tepatnya tanggal 19 Juni sehari sebelum hari jadi. Untuk pelaksanaan tahun ini dilaksanakan dengan dua cara yaitu tatap muka yang bertempat di Pendopo Sabha Kridatama Rumah Rakyat Jln. Hayam Wuruk No. 52 Mojokerto yang diikuti oleh Wakil Walikota Mojokerto Achmad Rizal Zakaria, ketua TP-PKK, perwakilan dari jajaran Forkopimda, ketua PCNU,Ketua Muhamadiyah,Aisyiyah, Mulimat, Ansor, Fatayat dan seluruh Pak Kyai dan Bu Nyai dan secara virtual dan pejabat eselon 2 di jajaran Pemkot Mojokerto.
Walikota dan suami serta jajaran Forkopimda-jen
Adapun di tempat lain diikuti oleh para pejabat eselon 3 dan secretariat serta para tokoh agama, tokoh masyarakat bertempat di Ruang Sabha Mandala Madya (ruang Nusantara) Jl. Gajah Mada 145 Mojokerto. Selain itu juga diikuti di pendopo 3 Kecamatan. Sedangkan secara virtual diikuti oleh 103 Masjid di Kota Mojokerto.
Walikota Mojokerto Ika Puspitasari yang juga hadir bersama suami Supriadi Karima Saiful dalam sambutannya menyampaikan, peringatan hari jadi Kota Mojokerto sudah kedua kalinya dalam suasana pandemic covid-19. Sehingga kegiatan-kegiatan yang mengumpulkan banyak orang harus dibatasi, namun tidak mengurangi hikmad dari peringatan hari jadi kali ini.
Para jamaah dzikir akbar di pendopo RR-jen
Pada kesempatan tersebut Ning Ita panggilan akrab Walikota menyampaikan, bahwa Pemkot akan segera melaunching pusat wisata PKL yang ada di Rest Area Gunung Gedangan yang akan digunakan sebagai pusat kegiatan ekonomi warga.
Dihadapan para jamaah Ia mengingatkan agar tetap menjaga protokol kesehatan “5 M”. Mengingat kasus varian baru covid-19 yang terjadi di Sidomulyo agar tidak terjadi lagi di Kota Mojokerto.
Dalam dzikir akbar kali ini menghadirkan KH. Ali Mashuri dari Pondok Bumi Solawat Sidoarjo. Dalam tausyiyahnya menyampaikan tentang ketulusan niat. Beberapa hal yang ditekankan dalam tausyiyahnya antara lain, sesungguhnya amalan perbuatan itu tergantung pada niatnya. Amalan yang sederhana namun dibungkus dengan niat yang tulus dan ikhlas, maka akan lebih bermakna. Sebaliknya banyak kewajiban yang menjadi sia-sia karena tidak dibarengi dengan niat yang tulus.
Adapun tanda-tanda orang yang tulus dalam beramal antara lain, tidak malas, tidak menemukan kesulitan dan hambatan, ulet dan tahan banting, dan bergantungnya kepada Allah SWT. (an)