Walikota Mojokerto bertindak selaku Inspiktur pada upacara Hari Santri-jen

Kota Mojokerto-GEMA MEDIA : Masih sama dengan tahun sebelumnya, peringatan hari santri tahun ini juga dirayakan di tengah situasi pandemi Covid-19. Namun, hal tersebut tentu tidak seharusnya mengurangi esensi hari santri itu sendiri. Sebagaimana pertama kali ditetapkan oleh Presiden melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2015, peringatan Hari Santri Nasional (HSN) sebagai bentuk pengakuan atas jasa para ulama, kiai, dan santri dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Tidak bisa dipungkiri jika kalangan pesantren merupakan bagian dari perjalanan panjang sejarah bangsa ini.

Para banser sedang membawa bendera lambang organisasi-jen

Memasuki 76 tahun kemerdekaan NKRI, peran santri tentu tidak lantas usai. Terlebih belakangan semakin banyak dijumpai kelompok-kelompok yang mencoba untuk meruntuhkan NKRI, mencoba menghapus ideologi Pancasila, ataupun UUD 1945. Oleh karenanya, bara semangat resolusi jihad yang pertama kali dikumandangkan oleh KH. Hasyim Asy’ari, saat Rais Akbar Nahdlatul Ulama, pada 22 Oktober 1945 sudah semestinya dipertahankan. Santri masa kini juga harus selalu siap siaga dengan segenap jiwa dan raga untuk membela dan menjaga keutuhan NKRI dan mewujudkan perdamaian dunia.

Upaya perwujudan hal tersebut tentu harus mengikuti perubahan zaman, terlebih di tengah situasi pandemi seperti saat ini. Salah satunya dengan memanfaatkan teknologi digital yang tengah berkembang pesat. Santri yang sebelumnya kerap diidentikkan dengan kehidupan tradisional, kini dituntut untuk bisa melek teknologi dan memanfaatkannya sebagai salah satu “media jihad”.

Sekdakot, Staf ahli dan jajaran Forkopimda-jen

“Meskipun pandemi seperti sekarang perjuangan santri tidak boleh berhenti. Santri sekarang itu harus bisa berjuang lewat medsos, tidak hanya berjuang di dunia nyata. Makin banyak ancaman bagi NKRI yang justru muncul lewat media sosial”, ujar Islachiyatul Asyrofiyah, salah satu perwakilan Fatayat NU yang bertugas sebagai pembaca Ikrar Santri.

Hal senada juga diungkapkan oleh perwakilan GP Anshor, Zainul, yang bertugas pembaca UUD 1945. Dirinya menekankan bahwa memasuki era digitalisasi santri harus bangkit bukan sebaliknya. Seperti dalam petikan wawancara berikut ini:

“Keadaan yang serba daring seharusnya tidak membuat santri menjadi malas dan justru mengalami keterpurukan. Dengan semangat  resolusi jihad, santri harus bangkit, kembali menata kehidupan di era new normal dan berjuang untuk menyongsong Indonesia Emas 2045”.

Keduanya merupakan perwakilan dari kalangan santri yang turut serta dalam apel peringatan HSN di halaman kantor walikota, Jumat pagi (22/10). Kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh Walikota Mojokerto, Hj. Ika Novitasari, S.E. yang juga mengundang segenap jajaran forkopimda Kota Mojokerto, Ketua Organisasi Masyarakat Islam, dan Ketua pengasuh ponpes se-Kota Mojokerto.

Peringatan HSN tahun ini mengangkat tema  “Santri Siaga Jiwa dan Raga”. Meski apel diikuti jumlah yang terbatas dan penerapan protokol kesehatan yang ketat, apel peringatan Hari Santri Nasional oleh Pemkot Mojokerto dapat berjalan lancar dan penuh khidmat. (El/an)

 

 

Print Friendly, PDF & Email