Kepala Sekolah SDN Purwotengah memberikan hasil karyanya dalam bentuk buku rekam jejak Bung Karno-jen

Mojokerto-GEMA MEDIA :  Sejarah membuktikan bahwa Ir.Soekarno Presiden Indonesia yang pertama, ternyata pernah sekolah di Kota Mojokerto. Bung Karno panggilan karibnya, pada  tahun 1907 an pernah sekolah di Sekolah ongko loro(2), yang sekarang SDN Purwotengah.

Sekolah ongko loro, awalnya bernama Inlandsche School juga disebut sebagai Tweede School atau Sekolah Ongko Loro (2) sebuah julukan bagi sekolah yang menampung anak pribumi yang saat itu masih dianggap warga kelas dua.

Inlandsche School merupakan cikal bakal berdirinya SDN Purwotengah di Jalan Taman Siswa Kota Mojokerto yang hingga saat ini memiliki lima ruang kelas di sekolah dan masih dipertahankan keasliannya.

Ning Ita menjelaskan grend desain Galeri Soekarno dihadapan rombongan-jen

Untuk ini menarik perhatian banyak pihak untuk melakukan study wisata edukasi sejarah, baik dari kalangan elit politik, akademisi, sejarawan maupun  budayawan di Indonesia.

Minggu,25 September 202 rombongan sekjen PDI-Perjuangan telah berkunjung ke SD ongko loro tempat dimana bung karno pernah sekolah saat itu. Hasto Kristiyanto Sekjen PDI-Perjuanagan hadir bersama ketua DPRD Provinsi Jawa Timur  Kusnadi beserta rombongan disambut Walikota Mojokerto teriring hujan gerimis malam itu.

Hasto Kristiyanto Sekjen PDI-P di Mojokerto-jen

Ning Ita beserta suami Supriadi Kharima Saiful, Kepala Dinas Pendidikan dan dan kebudayaan Kota Mojokerto Amin Wachid, Kepala SDN Purwotengah Endang Pujiastuti, Pengawas sekolah dasar, Ketua Dewan Kebudayaan Daerah, Untuk melestarikan sejarah bangsa yang besar ini, Pemerintah Kota Mojokerto dibawa kepemimpinan Ika Puspitasari (Nin Ita) memgungkit potensi sejarah yang ada di bumi Mojopahit ini.  Alhasli, masih banyak petilasan di bekas sekolah ini  antara lain papan tulis yang bisa dilipat, dan dibelakangnya ada tulisan tahun 1907 saat Koesno nama kecil Bung karno.

“Masih ada 2 unit papan tulis yang masih asli peninggalan waktu Bung karno sekolah disini, dan dibelakang papan tulis ada tulisan tahun 1907, selain itu juga ada beberapa bangku model kuno gandeng dengan kursi dan masih original, dan beberapa ruang kelas” ucap Ning Ita saat menjelaskan kepada rombongan pejabat politik dari Pemerintah pusat.

Untuk ini Pemerintah Kota Mojokerto sudah menetapkan Galeri Soekarno sebagai  Benda cagar budaya. “Pemerintah Kota Mojokerto sudah menetapkan Galery Soekarno sebagai Cagar Budaya” tegasnya.

foto bersama di depan patung Soekarno-jen

Untuk menjadi wisata sejarah, Pemkot sudah membentuk green desain yang dilengkapi dengan pagar, ruang public, lengkap dengan ruang kelas soekarno dengan memadukan konsep dulu, sekarang dan untuk masa depan. “Bangunan SDN Purwotengah ini perpaduan jawa dengan belanda, sementara kalau di SMP Negeri 2 dominan bangunan belanda, tandas Ning Ita.

Sementara itu Hasto Kristiyanto Sejken PDI-P menyampaikan  sekaligus menanggapi apa yang telah dijelaskan oleh Ning Ita terkait Soekarno center yang sudah ditetapkan sebagai Cagar Budaya.

Hasto sangat mengapresiasi atas semangat perjuangan Ning Ita untuk mewujudkan dan melestarikan rekam jejak sejarah perjalanan Bung Karno sang Ploklamator bangsa

Bangsa yang besar adalah bangsa yang mengharga  jasa para pahlwannya. Sekilas menyimak rekam jejak sejarah bung karno, adalah sosok yang sangat cerdas. Bung Karno telah menguasai beberapa  bahasa asing utama bahasa belanda.

“Kita belajar untuk masa lalu dan masa sekarang dan kemudian diintegrasikan untuk masa depan, dengan mengambil makna peristiwa-peristiwa- penting” sambungnya.

Bung Karno sebagai proklamator dan bapak bangs apa yang ada di SD in telah ikut membentuk kepribadian  Soekarno. “Bagaimana kesadaran membentuk nasionalime itu,  Sehingga dia bisa melihat kenapa ada perbedaan antara anak bumi putra dan belanda” terangnya.

Pada kesempatan tersebut Endang Pujiastuti memberikan buku hasil karyanya selama mencari rekam jejak Bung Karno kepada Hasto Kristiyanto.(an)

 

 

Print Friendly, PDF & Email