Program GATI LANSIA , Ning Ita serahkan bantuan-nov

Mojokerto-GEMA MEDIA :- Wali Kota Mojokerto, Ika Puspitasari kian rutin menyapa warga dan terus meningkatkan pelayanan melalui kegiatan Jumat Barokah. Di hari besar umat muslim ini, Ning Ita sengaja berkeliling untuk memantau penyelesaian permasalahan – permasalahan yang ada di lingkungan yang dikunjunginya sekaligus berinteraksi menyapa warganya secara langsung.

 Seperti yang dilakukan di Kelurahan Gunung Gedangan, Kecamatan Magersari, Jumat (30/7) pagi. Ia beserta suami Supriyadi Karima Saiful bergerak berboncengan menggunakan motor dan  membagikan berbagai jenis bantuan di beberapa titik lokasi.

 “Melalui Jum’at Barokah ini kami ingin sedikit meringankan beban masyarakat di tengah pandemi,” kata Ning Ita seusai menyampaikan di kediaman Ibu Karniti, salah seorang lansia warga RT. 01 RW. 07 Lingkungan Gedangan Kelurahan Gunung Gedangan.

 

Ning Ita tebas dagangan Ibu Waginah, lansia Gunung Gedangan-nov

Dalam kesempatan ini, Ibu Karniti menerima bantuan melalui GATI LANSIA (Gerakan Ayo Tulung Tinulung Lanjut Usia) dan juga mendapat bantuan dari Ning Ita berupa satu set tempat tidur berikut kasur, selimut, sprei dan bantal, serta jarik tiga lembar dan baju daster tiga potong.

 Selain bu Karniti, Ning Ita juga memberikan bantuan etalase dan modal usaha untuk Ibu Waginah, lansia kurang mampu warga RT. 01 RW. 07 Lingk. Gedangan Kelurahan Gunung Gedangan, disini Ning Ita menebas semua dagangan Bu Waginah dan dibagikan ketetangga kanan kiri Bu Waginah. Sedangkan bantuan kursi roda diberikan kepada Ibu Sumiati, lansia penyandang disabilitas warga Lingkungan Gunung Anyar RT 003 RW 006 Kelurahan Gunung Gedangan

 Selain menyampaikan bantuan, Ning Ita juga memantau beberapa penyelesaian dari permasalahan yang disampaikan warga lingkungan Kebohan, Kuti dan Kedungsari melalui Lurahnya. Diantaranya memantau perbaikan jalan berlubang di jalan Kuti, pemasangan wifii di pos kamling Kebohan, memberikan NIB kepada sdri Frieska UMKM pemilik salon kecantikan, dan menyambangi Tiara yang mengalami kelainan mata dan tuna rungu di Lingk Kebohan.

 

Turut serta berkebun bersama ibu-ibu KWT-nov“Ketika saya turun langsung menyapa warga seperti ini, saya jadi tahu kondisi masyarakat Kota secara langsung . Saya tadi juga ikut berkebun bersama Ibu ibu KWT Matahari Lingk Kebohan, mambagikan hadiah buat anak anak yang rajin memakai masker ketika beraktifitas diluar ruangan,  kami juga, membagikan bantuan sembako dan masker kepada 55 orang surveyor dan tagana yang telah membantu pendistribusian bansos” ungkapnya. 

 Sebelum pandemi Covid-19 katanya lebih lanjut, Pemkot Mojokerto memiliki program rutin ‘PSN Terintegrasi Selama 60 Menit yang digelar setiap hari Jum’at. Ia bersama jajarannya gowes turun berkeliling berpindah-pindah sasaran. Namun disaat terjadinya pandemi ,kegiatan PSN terintegrasi tidak bisa berjalan secara rutin, karena adanya pembatasan kegiatan kemasyarakatan. 

 Kegiatan ‘Jum’at Barokah’, ujarnya, sudah dilakukan beberapa kali dengan menggandeng Baznas serta beberapa orang donatur.

 “Saya gandeng Baznas dan beberapa orang donatur yang memiliki kesamaan visi untuk mengisi celah-celah kekurangan sosial, untuk mereka yang belum tercover bantuan APBD Pemkot Mojokerto,” terangnya.

 

Memperbaiki insfrastruktur yang rusak-nov

Ning Ita menyebut beberapa jenis bantuan, seperti kursi roda, alat bantu jalan bagi anak disabilitas. Juga memberikan pekerjaan kepada anak disabilitas yang sudah memiliki keterampilan dan lulus sekolah.

“Kemudian bagi lansia, saya bersama dengan suami punya program-orang tua asuh. Kami mencari donatur-donatur bagi para lansia yang memang sangat tidak memungkinkan diberi bantuan dalam bentuk sembako, karena hidupnya sebatangkara,” terangnya.

 Sebenarnya, sambung Ning Ita, bagi lansia sebatangkara Pemkot sudah menyiapkan ‘rumah lansia’. Namun tidak semua lansia mau untuk diajak tinggal bersama-sama disana. Bagi yang tidak mau untuk diajak ke rumah lansia,  ia carikan donatur untuk orang tua asuh.

“Tidak hanya untuk lansia, kata Ning Ita lebih jauh, ada juga orang tua asuh bagi yatim. Meskipun dari APBD kita sudah punya sasaran sebanyak 375 anak yatim, namun ada yang belum tercover. Sehingga celah-celah sosial yang belum terisi inilah kami ajak, kami gandeng para donatur,” cetusnya.

 “Termasuk teman-teman ASN, kepala dinas, kepala bagian, yang punya jiwa sosial, yang punya keinginan untuk berbagai dengan sesamanya saya ajak untuk menjadi donatur pribadi, bukan atas nama Pemkot. Jadi kalau pun ada kepala dinas jadi donatur, bukan karena dinasnya, tetapi beliau pribadi memang ingin menjadi  bapak asuh,” tukasnya. (*/nov/an)

 

 

Print Friendly, PDF & Email