Serasehan Budaya dalam rangka penyusunan MULOK SD dan SMP-jen

Mojokerto – GEMA MEDIA: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Mojokerto menggelar sarasehan budaya dalam rangka menyusun mata pelajaran muatan lokal SD dan SMP di Kota Mojokerto, Selasa (13/6) pagi.

Acara yang digelar di Aula kantor Bappeda Litbang Kota Mojokerto ini menghadirkan nara sumber ahli yakni Guru Besar Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang, Prof. DR. Djoko Sarjono, M.Pd.

Dalam sambutan pembukaannya, Kepala Dinas P dan K Kota Mojokerto, Amin Wachid mengatakan abad ke 13 lalu merupakan tonggak sejarah nusantara dimana berdiri kerajaan Majapahit yang bisa mempersatukan nusantara.

“Kita adalah keturunan darah Majapahit yang bisa berbuat banyak untuk kemajuan dan kemakmuran Mojokerto Raya,” ujarnya.

Amin Wachid Kepala Dinas P dan K saat membuka serasehan-jen

Amin menyebut, Spirit Of Majapahit sudah dihidupkan kembali di Kota Mojokerto sejak Wali Kota Mojokerto, Ika Puspitasari memegang pucuk kepemimpinan dua tahun lalu. Bahkan Wali Kota perempuan pertama di Kota Mojokerto ini juga menunjukkan kepedulian yang sangat luar biasa terhadap bidang budaya.

“Beliau tak segan menelisik dan mengolah kembali sejarah budaya dan mewajibkan agar bangunan di instansi pemerintahan bercorakkan Majapahit,” ungkapnya.

Ia mencontohkan, saat ini bangunan kantor Pemkot Mojokerto sudah mencerminkan corak majapahit. Pun demikian kantor Kecamatan dan Kelurahan-kelurahan di Kota Mojokerto.

“Minimal pagar di kantor-kantor instansi pemerintahan saat ini sudah bercorakkan majapahit. Ini sebagai upaya Ibu Wali Kota untuk menanamkan semangat majapahit sebagai character building (membangung karakter) masyarakat Kota Mojokerto,” tegasnya.

peserta serasehan budaya-jen

Atas upayanya tersebut, lanjut Amin, akhirnya menjadikan Wali Kota Ning Ita mendapat anugerah kebudayaan dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) yang diserahkan secara langsung oleh Presiden Joko Widodo.

“Itu luar biasa karena di Indonesia hanya 10 daerah saja yang mendapatkan anugerah tersebut. Penghargaan ini sebagai pemicu saja tapi kita harus konsentrasi ke kemajuan budaya,” ungkapnya.

Ia menambahkan, terkait pembelajaran muatan lokal yang responsif budaya lokal di Kota Mojokerto, pihaknya sudah menjalin komunikasi di tahun ajaran baru dengan seluruh Kepala Sekolah SD dan SMP se Kota Mojokerto.

 

“Sebenarnya ini sudah kita mulai dua tahun lalu sebelum muncul pandemi dengan menggelar event perlombaan permainan anak-anak patil lele dan cublek-cublek suwung. Ini akan kita masifkan sebagai upaya character building yang menghormati akar budaya,” imbuhnya.

Tak hanya itu, Amin menyebut, pihaknya juga mewajibkan seluruh sekolah di Kota Mojokerto untuk memutar lagu kebangsaan Indonesia Raya setiap paginya. Dan memutar Gending-gending jawa saat jam istirahat.

“Di hampir semua sekolah juga kita upayakan ada gamelan untuk digunakan oleh para siswa,” pungkasnya. (Jen)

 

 

Print Friendly, PDF & Email