Walikota menunjukkan hasil kreasi tempe tempe emoji dan love yang dimasaknya-jen

MOJOKERTO – GEMA MEDIA: Kota Mojokerto kembali memiliki produk inovatif di tengah pandemi Covid-19. Hasil produksi UMKM yang ini dengan mengolah kedelai menjadi tempe, yang dimunculkan salah satu warga dengan bentuk inovatif dan kolaboratif.

Terbentuklah olahan fermentasi kedelai dalam wujud emoji smile dan love yang dihasilkan Nastain salah satu pengusaha tempe sejak November 2020 lalu. Bahkan belakangan ini, tempe itu menjadi hitz di kota terkecil di Indonesia ini.

Saking hitznya, Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari mencoba memasak langsung di dapur Rumah Rakyat, Selasa, 19 Januari 2021.

“Pagi ini saya lagi mau masak yang lagi viral dari Kota Mojokerto. Tempe smile dan love namanya. Hasil karya anggota Kelompok Usaha Bersama (KUBE) kita, yang katanya rasa tempenya enak,” ucap Ika Puspitasari atau Ning Ita sembari memotong tempe berbentuk bulat tersebut.

Walikota Mojokerto Ika Puspitasari saat di Rumah Rakyat-jen

Ning Ita menyebut, olahan tempe dengan inovatif dan kolaboratif dari warganya yang sejak belasan tahun memproduksi tempe rumahan, yakni warga Lingkungan Randegan RT02/RW01, Kelurahan Kedundung, Kecamatan Magersari.

“Saya ingin tahu rasanya, apakah senikmat dan segurih bentuknya. Kita coba bikin bersama-sama,” jelasnya. Walikota perempuan pertama ini, meminta warganya untuk senyumlah di saat apapun karena semua pasti punya jalan keluar.

Seperti halnya, ide pembuatan tempe berbentuk ini berawal dari keluhan seorang ibu yang merasa bingung karena anaknya tidak tertarik sama sekali terhadap tempe kepada Nastain, 32 tahun.

“Dan akhirnya pengusaha olahan kedelai ini mencoba berkreasi, terciptalah Tempe Smile yang gurih dan nikmat senikmat bentuknya, apalagi didampingi sambel bawang. Produk asli UMKM Kota Mojokerto,” paparnya.

Wanita dengan Spirit Of Majapahit ini, mengatakan jika beberapa minggu lalu produksi tempe smile dan love sempat terhenti. Dikarenakan pasokan kedelai import dari Amerika sulit didapat dan harganya begitu tinggi mencapai Rp 9.200 rupiah perkilogram.

“Jadi kita adakan operasi pasar beberapa hari lalu, untuk pelaku IKM olahan kedelai kembali aktif. Dengan harga normal hanya Rp 8.700 perkilogram supaya warga tak kesulitan lagi dan produksi tempe dan tahu menjadi lancar,” pungkas Ning Ita. (Jen/an)

 

 

Print Friendly, PDF & Email