Tim berada di Rumah Potong Hewan melihat langsung pengolahan limbah RPH-an

MOJOKERTO-GEMA MEDIA : Sebagai tindak lanjut ditetapkanya Kota Mojokerto sebagai Kota Open Defecation Free (ODF) atau kota yang masyarakatnya sudah tidak ada lagi yang melakukan praktek buang air besar sembarangan, dan telah menggunakan jamban sehat,  Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur melakukan monitoring ke lapangan.

Tujuan monitoring kali ini tidak hanya untuk melihat kondisi  perilaku masyarakat terhadap akses sarana jamban sehat di Kota Mojokerto pasca ODF, tetapi juga dalam rangka melihat upaya lain yang sudah dilakukan oleh masyarakat dalam implementasi 4 (empat) pilar lainnya. Karena salah satu indikator ODF berdasarkan Permenkes No.3 Tahun 2014 poin e menyatakan bahwa, suatu komunitas dinyatakan ODF apabila : “ Ada upaya atau strategi yang jelas untuk dapat mencapai sanitasi total”. Sanitasi total ini apabila diartikan meliputi 5 pilar STBM, yang kemudian juga menjadi target yang harus dicapai. Secara keseluruhan 5 pilar STBM terdiri dari 1.Stop BABS atau ODF, 2.Cuci tangan pakai sabun, 3.Pengelolaan air minum dan makanan rumah tangga, 4.Pengamanan sampah rumah tangga dan, 5.Pengamanan limbah cair rumah tangga.

Tim dari Provinsi Jatim sedang melihat instalasi pengolahan limbah di RPH-an
Tim yang berada di Lingkungan Purwotengah melihat sayuran yang ditanam warga-an

Demikian hasil wawancara dengan Ika Puspitasari, SST,MKL dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur saat melakukan monitoring di Kota Mojokerto, selasa, 8/12/2020.                                                            “ Karena setiap orang berhak mendapatkan lingkungan yang sehat, sehingga menjadi kewajiban kita semua untuk menyediakan lingkungan yang sehat dan tidak mempunyai resiko buruk bagi kesehatan, dengan menerapkan 5 (lima) Pilar STBM”, katanya. Kali ini lanjut Ika, kami ingin mengetahui dan memastikan ada upaya implementasi 5 pilar STBM, pasca ODF. Kegiatan monitoring ini sekaligus sebagai persiapan penilaian Kota sehat tingkat Nasional tahun 2021. Kota Mojokerto menuju penilaian swasti saba Wistara yang salah satu persyaratannya adalah ODF.

Tim lagi monetoring di Sanimas MCK umum Kelurahan Kranggan-an

Pada Monitoring kali ini Ika bersama tim lainnya Feri Kriswandana, SST,MT dari HAKLI Jawa Timur, dan Pracihno Kurniawan, TA. STBM Provinsi Jawa Timur. Tim didampingi Dinkes Kota Mojokerto, FKMS, dan FKKS Kecamatan menuju Rumah Potong Hewan (RPH) Kelurahan Kedundung, Kelurahan Purwotengah, Kelurahan Kranggan dan Kelurahan Surodinawan.

Di Purwotengah tim melakukan wawancara dengan warga terkait biopori, Bank Sampah, Budidaya sayur, Tempat Cuci Tangan. Sebagai catatan di Purwotengah, di sekitar perumahan warga, lingkungannya asri, hampir setiap rumah penduduk menanam sayur di halaman rumah (pilar 3). Untuk sarana cuci tangan pakai sabun juga tersedia hampir di setiap rumah warga, tetapi sayangnya belum semuanya dimanfaatkan dengan baik, tidak tersedia air dan sabun cuci yang memadai untuk mendukung pemanfaatan sarana CTPS tersebut (pilar 2). Berikutnya berdasarkan informasi warga bahwa ada kegiatan di wilayah tersebut terkait program 1000 (seribu) biopori per kelurahan yang sudah diterapkan sebagian besar warga (pilar 5). Ada kegiatan pemilahan sampah di tatanan rumah tangga (pilar 4).

Saat di Rumah Pemotongan Hewan (RPH), Feri juga mengevaluasi proses pengolahan limbah RPH. Secara umum lingkungan RPH masih dalam kondisi aman, namun demikian kebersihan perlu ditingkatkan, untuk limbah padat sudah ada reactor proses pengolahan menjadi biogas yang bisa disalurkan ke warga terdekat, sementara limbah cair  masih perlu ditambahkan septitank untuk standarisasi pengolahan disesuaikan dengan volume limbah yang ada.

Di Kelurahan Kranggan beberapa catatan, diantaranya bahwa berdasarkan informasi Lurah setempat, akan diupayakan untuk peningkatan kualitas sarana jamban sehat melalui anggaran pemerintah, untuk memastikan komitmen perubahan perilaku masyarakat terfasilitasi dengan ketersediaan sarana sanitasi yang memadai. Akan dilakukan sosialisasi peraturan walikota tentang STBM, sehingga semua anggota masyarakat baik yang merupakan warga setempat maupun pendatang bisa menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat secara menyeluruh. Tim juga melihat pengelolaan sarana MCK umum yang dibangun oleh Program Sanimas “Margoratan” yang bisa memproduksi biogas yang saat ini dikelola oleh masyarakat setempat. Untuk lokasi lain yang dikunjungi adalah pengelolaan IPAL Komunal di Kelurahan Surodinawan dan pengelolaan Bank Sampah yang dikelola dengan cukup baik, karena tidak hanya memberikan keuntungan secara ekonomi, tetapi juga efektif mengurangi timbulan sampah yang dihasilkan rumah tangga di wilayah setempat.

Turut serta dalam monetoring ini, Kepala UPTD.RPH, Lurah dan Babinsa Kedundung, Lurah Purwotengah, Lurah Kranggan dan Lurah Surodinawan. Acara diakhiri dengan evaluasi bersama.(an)

 

Print Friendly, PDF & Email